​RAHASIA DI BALIK KEHEBATAN METODE “UTAWI IKI IKU” ALA PESANTREN

Oleh: KH. Muhajir Madad Salim bin Kyai Mas’udi

Satu anak didik saya yang sekarang saya titipkan kepada seorang ustadz balik ke rumah. Saya tanya, “Krasan (betah) mondoknya?”
“Tidak,” jawabnya.
“Kenapa tidak krasan?”
“Karena ustadznya mengajarnya tidak pakai ‘utawi iki iku’, saya jadi kesulitan memahami pelajaran-pelajaran beliau.”
Saya tersentak. Saya merasa bersalah. Memang ustadz yang saya titipi bisa dikatakan alim, dia mutakharrij (lulusan) Rubath Tarem. Tetapi jika mengajar tidak pakai rumus ‘utawi iki iku’ bagi santri Jawa ya repot. Lalu saya teringat paparan tentang hal ini. Dituturkan oleh kakak saya saat menjadi wakil keluarga dalam rangka Haul ayah saya, Kiai Mas’udi. Saya ambil bagian pentingnya saja. Meskipun panjang, insyaallah paparan beliau menarik. Sebab selain menjelaskan tentang pentingnya ‘utawi iki iku’, juga menerangkan banyak hal yang berhubungan dengan ranah keilmuan dunia pesantren Jawa.
Beliau pada bagian terakhir menerangkan begini, “Mbah Fadhol Senori sesudah menulis kitab Kasyf at-Tabarih , beliau pernah didatangkan oleh Kiai Mas’udi ke masjid ini dan beliau ajarkan kitab tersebut di hadapan para masyarakat terutama para kiai. Masjid mutih ini luar biasa, banyak orang-orang hebat pernah shalat di sini. Setidaknya yang pernah saya ketahui diantaranya Kiai Fadhol Senori, Mbah Raden Asnawi Kudus, beliau pernah juga memberikan pengajarannya di masjid ini, dan Mbah Kiai Idris bin Kamali Kempek, saat pernikahan Kiai Ali Murtadho. Mbah Idris datang ke sini tiga hari dan ikut shalat Jum’at di sini. Mbah Idris ini adalah menantunya Hadhratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari.
Kiai Mas’udi pernah mengaji dengan Mbah Fadhol. Mbah Fadhol muridnya Kiai Makmun Jam’an al-Bogori. Kiai Makmun Jam’an muridnya Syaikh Nawawi al-Bantani. Jadi Kiai Mas’udi ini punya jalur sanad dari Kiai Sholeh Darat dan juga punya sanad dari Syaikh Nawawi al-Bantani.
Kiai Mas’udi muridnya Mbah Sanusi. Mbah Sanusi muridnya Mbah Maksum Lasem 

(selain mengaji kepada Mbah Kholil Lasem). Mbah Maksum Lasem muridnya Syaikhona Kholil Madura. Berarti Kiai Mas’udi ini punya sanad keilmuan juga ke Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.
Tiga orang ini; Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Sholeh Darat dan Mbah Nawawi Banten adalah Pendobrak Tanah Jawa. Tiga serangkai yang punya jasa besar dalam dunia Pesanteren Indonesia terutama tanah Jawa. Dimana sesudah tiga orang kiai besar ini, rata-rata ulama Jawa adalah murid mereka atau muridnya salah satu dari mereka. Ketiga orang ini adalah selain alim juga merupakan orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, kita mengenalnya sebagai Waliyullah, kekasih Allah Ta’ala.
Kiai Mas’udi sangat membanggakan Kiai Sholeh Darat. Beliau sangat suka dengan Kiai Sholeh Darat. Sementra Kiai Sholeh Darat ini, menurut guru saya Abah Dim Kaliwungu, adalah Mujaddid Tanah Jawa di masanya. Santri-santri Jawa sekarang ini bisa membaca Kitab Kuning karena jasa besar beliau.
Saat Mbah Sholeh masih belajar di Makkah, belum pulang ke Jawa, para anak negeri kalau ingin mengaji kitab susahnya minta ampun. Tetapi begitu Mbah Sholeh pulang ke Jawa, beliau membuat rumus:
والمبتداء بلأتوي اكو خبر # افـا لفاعل ايغ لمفعول ظهر
Walmubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa’ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar
Pokok jika seorang kiai ngomong ‘Utawi’, santri akan paham kalau itu adalah Mubtada’. ‘Iku’ artinya Khobar. ‘Apa’ adalah Fail. Dan sudah jelas ‘Ing’ adalah Maf’ul. Ini rumus yang luar biasa. Metodologi pesantren yang dirumuskan oleh Kiai Sholeh tersebut punya pengaruh besar, punya manfaat besar dalam memintarkan para santri. Buktinya metodologi beliau tersebut masih dipakai hingga sekarang.
Kalau mau mengaji ke Jawa tanpa ‘utawi iki iku’ itu tidak akan berhasil (baik) meskipun sudah S-3 Mesir sekalipun. Saya punya sahabat sudah S-3; S-1 di al-Azhar, S-2 dan S-3 di Maroko. Tetapi kelamaan di sana selama 20 tahun, saat pulang ke Jawa ‘utawi iki iku’nya lupa. Dia mengeluh kepada saya, “Aku paham kitab, tetapi di sini tanpa ‘utawi iki iku’, murid-muridku tidak paham. Aku jadi bingung. Tolong aku diingatkan lagi…”
Saya jawab, “Ok, gampang. Almubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa’ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar…”
Kiai Sholeh Darat memang seorang Alim besar sekaligus Waliyullah. Sehingga Kiai Mas’udi sangat menyukainya. 
Abah Dim Kaliwungu berkisah kepada saya, “Pernah Syaikh Nawawi Banten itu, pulang ke Indonesia. O ya, tiga orang ini, Kiai Nawawi Banten, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan mengajinya sama-sama di Makkah. Sama-sama mengaji kepada as-Sayyid Bakri Syatha. Sayyid Bakri Syatha mengaji kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, Mufti Syafi’iyyah Makkah. Ketiganya sangat akrab, dan termasuk satu angkatannya adalah Syaikh Khathib Minangkabau. Tetapi budayanya beda, akhlaknya beda.
Kalau akhlaknya kiai Jawa akhlaknya orang Jawa Mutawadhi’ (tawadhu’). Sedangkan akhlaknya orang Sumatra –soal perbedaan karakter ini kesimpulan bukan dari Abah Dim, tetapi saya ambil dari sebuah buku milik orang Belanda dari Universitas Leiden yang mengutip dari laporan Snouck Hurgronje, seorang oreantalis yang pernah hidup menyamar sebagai Abdul Ghoffar di Makkah, (tetapi kabar Snouck Hurgronje sampai mengimami di Masjidil Haram itu Hoax, kalau dia pernah di Makkah memang ya). Snouck Hurgronje berkata, “Kalau kiai Sumatra memang alim, kritis tetapi akhlaknya bukan seperti Kiai Jawa. Mereka itu lebih terlihat sebagai orang-orang yang cerdas, sedangkan kiai-kiai Jawa itu terlihat sisi-sisi ketawadhu’annya.”
Kiai Nawawi Banten pulang ke Indonesia, beliau kangen dengan seorang sahabatnya dari kota Batang, namanya Kiai Anwar. Kiai Anwar ini juga dulunya di Makkah, seorang yang sangat Alim ilmu fikih, punya karangan kitab berjudul ‘Aysul Bahri. Kiai Anwar punya murid namanya Kiai Amir Pekalongan. Kiai Amir Pekalongan punya murid namanya Kiai Yasin Bareng Kudus. Kiai Yasin punya murid namanya Mbah Muhammadun Pondowan Pati. Kiai Muhammadun punya murid Kiai Mas’udi.
Dalam kitab ‘Aysul Bahri ada kalimat seperti ini:
وامـا الكفتيغ والكيوغو فكلاهمـا حلالان
Wa-ammal kepitingu wal kiyongu fakilahuma halalani. Jadi yang pertama dan satu-satunya ulama Indonesia saat itu yang menghalalkan kepiting cuma Kiai Anwar saja. Semua ulama Jawa mengharamkan kepiting. 
Di lain tempat Mbah Kiai Sholeh Darat juga tergerak hatinya untuk silaturrahim ke Kiai Anwar ini. Lebih menakjubkan lagi, yang di Madura, Mbah Kiai Kholil juga tergerak untuk berjumpa dengan Kiai Anwar. 
Akhirnya kesemua kiai itu, Kiai Nawawi, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan berkumpul di waktu yang sama di tempatnya Kiai Anwar di Kota Batang. Para sahabat lama ini terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan, terutama antara Kiai Kholil Bangkalan dengan Kiai Nawawi Banten. Saking Asyiknya mereka nyaris lupa waktu. Beberapa menit sebelum datang waktu salat Ashar, Kiai Sholeh Darat mengingatkan mereka, “Wahai Syaikhoni, qad qarubal Ashru. Kiai-kiai, sudah mau Ashar.”
Akhirnya tangan kanan Kiai Kholil dipegang oleh Kiai Nawawi Banten, sambil berkata, “Ayo, kita cari air dan tempat salat yang tidak bikin kita mengqadha salat Dzuhur.”
“Oh, mangga…” jawab Kiai Kholil.
Mereka berdua pun keluar rumah. Tetapi begitu keluar pintu, keduanya tidak lagi ada di Kota Batang. Namun mereka berdua sudah ada di Kota Makkah al-Mukarromah. Jadi kini mereka berdua, Kiai Kholil dan Kiai Nawawi mendapati waktu tidak lagi mau Ashar, bukan lagi jam 3 siang tetapi jam 11 siang, mundur empat jam!
Begitulah kiranya orang-orang yang punya kedekatan dengan Allah Ta’ala, sepertinya waktu dan tempat tidak lagi mengikat mereka, sebagai bagian dari kemuliaan (karamah) yang diberikan oleh Allah kepada mereka.”

Sumber : Facebook (Tanpa merubah judul dan isi teks)

Iklan

KEHENDAK ALLAH TA’ALA (KRITIK OPINI)

Seorang berpendapat yang ‘katanya’ bersumber dari ulama dengan berkata “Allah tidak berkehendak, tidak memerintahkan dan tidak meridhoi”
Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus dikritisi, dimana menurut saya sangat tidak bisa diterima.
1. Menyebut “Allah tidak berkehendak.”

Ini menunjukkan bahwa Allah gugur dalam nama sifatNya yaitu Al-Qadir dengan padanan perbuatanNya yaitu Qudroh. dimana tidak ada sesuatu apapun di alam semesta ini yang lepas dari kehendak dan kekuasaan Allah, bahkan bergesernya 1 butir pasir di gurun pasir adalah berdasarkan kehendak Allah.
Sebagai contoh, pembuktian ilmiah telah diterangkan dalam dunia kedokteran dimana para ilmuwan pada mulanya berpendapat bahwa usus buntu sangat merumitkan proses pencernaan, karena pada akhirnya pun akan dibuang juga jika seseorang mengidap penyakit usus buntu namun ternyata pada abad 21 ini ilmuwan merubah pendapatnya bahwa usus buntu adalah bukan suatu yang sia-sia. Dalam kasus lain, masih dalam dunia kedokteran dan pada abad yang sama membuktikan bahwa tulang ekor manusia adalah bukan hal sia-sia dalam proses penciptaan manusia.
Banyak sumber ayat Quran menyebutkan bahwa segala penciptaan alam semesta adalah atas kehendak dan perintah Allah. Salah satunya dalam surat Al-Qamar, ayat 49 Allah berfirman:
إِنَّ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (berdasarkan kehendak)”. Pada ayat ini Nabi SAW menjelaskan dengan sebuah hadits dimana beliau bersabda:
كل شيء بقضاء و قدر حتى العجز والكسل
Setiap sesuatu terjadi berdasarkan qadha dan qadar, bahkan termasuk sifat lemah dan malas. (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak sesuatu apapun di alam semesta ini yang diciptakan Allah diluar kehendak Allah. Dalam ayat lain Allah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ
“Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main saja (sia-sia), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”.
Kehendak Allah ini menyangkut segalanya alam semesta secara keseluruhan dan total bahkan termasuk dalam hal qadha baik dan buruk. Namun perlu diingat bahwa kaum Mu’tazilah menolak hal ini. Dimana mereka berpendapat bahwa Allah tidak mungkin menghendaki terjadinya sebuah keburukan. Menurut mereka, Allah hanya menghendaki keimanan seorang kafir atau ketaatan dari seorang pembuat maksiat. Dengan demikian, -menurut mereka- segala bentuk perbuatan buruk yang dilakukan oleh makhluk bukan berdasar pada kehendak Allah SWT. Padahal terdapat banyak ayat yang bertentangan dengan pendapat mereka, seperti firman Allah:
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (الأنعام: 125)
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al-An’am: 125)
Dalam riwayat al-Baihaqi, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar:
يا أبا بكر ، لو أراد الله إن لا يعصى ما خلق إبليس
“Wahai Abu Bakar!, Jika Allah menghendaki Dia tidak didurhakai, maka Dia tidak akan menciptakan Iblis”. (HR. Al-Baihaqi)
Jika kamu Mu’tazilah mengatakan bahwa kehendak buruk adalah sebuah keburukan, maka itu adalah benar, itu jika dinisbatkan (disandarkan) kepada manusia. Namun jika hal itu dinisbatkan kepada Allah, maka hal tersebut bukan sebuah keburukan. Sebab Dia adalah pemilik segala sesuatu, bebas mengerjakan apa yang Dia kehendaki dan Dia tidak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang Dia lakukan.
Firman Allah dalam al-Quran surat An-Nisa’ ayat 79 secara dzahir menjadi dalil dari apa yang menjadi keyakinan kaum Mu’tazilah. Ayat tersebut ialah:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (النساء: 79)
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (QS. An-Nisa’: 79)
Yang dijelaskan dalam ayat ini bahwa keburukan tidak disandarkan kepada Allah SWT adalah sebuah pengajaran Allah untuk menjaga adab (tata krama) yang baik kepada Allah, ketika sebuah menyebutkan keburukan secara khusus. Sehingga adalah sebuah adab yang buruk jika kita mengucapkan dalam doa “Wahai dzat yang menciptakan babi!”, meskipun pada hakikatnya Allah yang menciptakannya.
Nabi Ibrahim mengatakan –seperti yang tersebut dalam al-Quran—“Jika aku sakit maka Dia (Allah) yang menyembuhkanku”. Ungkapan nabi Ibrahim ini adalah sebuah adab yang baik kepada Allah. Beliau menisbatkan sakit kepada dirinya dan menisbatkan kesembuhan kepada Allah SWT.
2. Tidak memerintah.

Pada poin ini juga sangat tidak sesuai dengan kaidah dasar keimanan bahwa disebutkan dalam surat Yasin Allah berfirman:
إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون
“Sesungguhnya dalam setiap perkara dalam kehendakNya apabila menginginkan sesuatu hanyalah berkata ‘JADI’ maka jadilah!”.
Sehingga, jika kita kaitkan pada poin pertama bahwa segala kehendak Allah adalah merupakan perintahNya, karena memang Allah adalah MAHA BERKEHENDAK, karena kehendakNya itulah dimanifestasikan dalam bentuk perintah. apakah termasuk dalam hal kebaikan dan keburukan? ya, tidak ada pengecualian. Dan semua ini seluruhnya atas dasar master design yaitu Allah sendiri.
3. Allah tidak ridha.

Ini pun akan memberikan celah kelemahan sifat ketuhanan Allah. Kenapa? karena jika kita kaitkan pada poin 1 dan 2 maka semua ini menunjukkan bahwa Allah berkehendak, yang kehendakNya itu dimanifestasikan dalam bentuk perintah, dan Allah punya sifat Al-‘Aliim dan Al-‘Ilm dimana segala kehendakNya yang dimanifestasikan dalam bentuk perintah adalah tidak luput dari pengetahuan Allah dan segala yang dilakukannya adalah atas dasar kesadaran Allah sebagai sifat keabsolutan ketuhanan Allah, karena telah disebutkan pada poin pertama dimana Allah berfirman bahwa apa saja seluruhnya yang diciptakan Allah adalah bukan sekedar main-main atau sia-sia belaka.
Maka pada kesimpulannya, bahwa sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW hingga para ulama memberikan pemahaman yang sesuai keimanan. Bahwa Allah adalah Tuhan, karena sifat ketuhananNya yang absolut tidak bisa disamakan dengan kekuasaan manusia dalam bentuk kepresidenan atau raja. Kita sebagai hamba hanya memiliki tugas mengimani dengan sadar bahwa semua yang dilakukan Allah atas dasar HAQ QUDRAT ALLAH, keabsolutanNya tidak bisa diganggu-gugat karena seluruhnya sudah terangkum dalam Asmaul Husna.
Maka perlu diketahui bahwa keabsolutan Allah hanya bisa dikenal dari 4 hal;

a. Al-Sabqu (Yang Maha Terdahulu atau Maha Pertama). DahuluNya dan kepertamaanNya tidak ada yang mendahului dan tidak ada yang lebih pertama dariNya. Dan yang telah disebut dalam Asmaul Husna seluruhnya menunjukkan ke-Sabaq-an Allah.
b. Al-Ithlaq (Yang Maha Mutlak). kemutlakanNya absolut. Asmaul HusnaNya adalah Sabaq yang mutlak dan absolut.
c. Al-Sarmadiyah (Maha Langgeng). dengan segala sifat-sifatNya yang Sabaq dan Mutlak tidak akan pernah ada akhirnya. Sampai kapan? tidak ada yang tahu, karena selain Allah adalah makhluk dan makhluk selamanya tidak pernah tahu hakikat keabsolutan penciptanya.
d. Al-Dzatiyah (Diri Sendiri). Dari poin a s.d c adalah seluruhnya diriNya sendiri. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat memberi kepada Allah dari segi apapun. Karena diriNya adalah absolut. KeabsolutanNya adalah diriNya secara haq.
Wallahu a’lam bissowab

Penjelasan Ayat سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Dalam kitab As-Showi ‘ala Al-Jalalain menjelaskan tentang surat Al-Fath ayat 29:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)

Bahwa dikatakan terjadi perbedaan pendapat mengenai makna ayat (في وجوههم من أثر السجود) tanda “bekas” tersebut. Sebagian ulama mengatakan bagian wajah yang kena sujud itu dilihat pada hari kiamat laksana bulan purnama. Pendapat lain mengatakan pucat wajah karena berjaga malam. Sebagian lain berpendapat khusyu’ yang muncul pada anggota tubuh sehingga seperti dilihat mereka dalam keadaan sakit, padahal mereka tidak sakit.
Selanjutnya As-Showi menegaskan tidak termasuk dari maksud tanda dari bekas sujud itu apa yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh yang sengaja memperlihatkan tanda bekas sujud pada dahinya, maka itu adalah perbuatan kaum Khawarij. Kemudian As-Showi mengutip hadits Nabi yang berbunyi:

أني لأبغض الرجل وأكره إذا رأيت بين عينيه أثر السجود

Artinya : “Sesungguhnya aku sangat membenci seseorang apabila aku melihat diantara dua matanya bekas sujud.” (As-Showi, Hasyiyah As-Showi ‘ala Al-Jalalain, Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, Indonesia. Juz. IV, hal. 106).

Hadits yang dikutip oleh As-Showi diatas adalah hadits dari Syarik bin Syihab.

Beliau, Syarik bin Syihab adalah seorang yang pernah berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Rasulullah Muhammad SAW. yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat.

Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya.

Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Mendengar ucapannya, Nabi marah besar.

Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka.

Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudian mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalu muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li ghairihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).

Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546). Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya.

Beliau berkata kepadanya, ” Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698) Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu !” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699). Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapalan’ semisal ‘kapalan’ yang ada pada seekor kambing.

Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700). Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud.

Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701). Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapalan’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapalan’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat.

Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Husnuzan

Hapuslah penglihatan pada dirimu,

Meski kau memiliki jutaan kebaikan.

Hilangkan pandanganmu pada orang lain,

Meski dia memiliki jutaan keburukan.

Kau tak lebih baik dari dirinya,

Dan dia tak lebih buruk dari dirimu.

Tangisilah dirimu walau hanya satu keburukan,

Pandanglah dia walau hanya satu kebaikan.

Kau tak beda jauh dengannya,

Masih membutuhkan ampunan dan rahmat Allah.

Bagaimana kau bisa memvonis orang dengan congkak?,

Sedangkan kau pun sama-sama tervonis.

Kau bukan malaikat dengan segala kelebihanmu,

Dan dia pun bukan iblis dengan segala dosanya.

Kau dan dia punya nasib yang sama,

Mati dengan segala perjalanan yang sulit.

Bisa jadi kau mati dalam keadaan hina,

Dan dia mati dalam keadaan bahagia.

Kau dan dia punya keadaan yang sama,

Tak tahu keadaan apa yang esok kan dijumpa.

Sukamu adalah bukan dukanya,

Ataupun sebaliknya.

Hidupmu tak seindah dalam pandangannya,

Dan hidupnya pun tak seburuk dalam pandanganmu.

Dan pada akhirnya akan kau tahu,

Bahwa dia adalah sangat lebih baik dan unggul dari dirimu.

“Sesungguhnya perbuatan itu terlihat pada akhirnya.”

Wallahu a’lamu bissowab.

By ibnusabil06

Oase

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Al-Kahfi: 109)

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الأرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. (Luqman: 27)

SYARIAT, GURU DAN THARIQAT

Asy-Sya’rani

Dan diantara perilaku yang harus dilakukan murid, hendaknya tidak belajar ilmu syariat kecuali kepada orang yang dikenal zuhud dan wara’. Jika gurunya mengizinkan untuk belajar kepada seorang guru syariat yang ditunjuk, tentu itu akan lebih membantu kepadanya dan mempersingkat tujuannya.

 

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi mengatakan: “Andaikan seorang murid datang ke tarekat melalui pintu ikhlas dalam ilmu dan amal, dan menjalankan perintah syariat demi memenuhi perintah Allah Swt, dan bukan karena ingin mencari pahala atau faktor-faktor pendorong lainnya —sebagaimana yang dilakukan oleh para salaf saleh— tentu ia sudah cukup dan tidak membutuhkan kaum sufi. Akan tetapi karena ia datang ke tarekat dengan membawa setumpuk penyakit dalam ilmu dan amalnya, sehingga tidak memungkinkannya masuk ke hadirat Allah Azza wa Jalla. Oleh karenanya, ia tetap butuh orang bijak yang membantu menghilangkan penyakit-penyakitnya supaya ia pantas masuk ke hadirat Allah Azza wa Jalla. Sebab hadirat ini diharamkan bagi kaum yang sekadar mengaku dan tolol.”

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi juga mengatakan: “Apabila seorang murid tidak sanggup mengikuti perilaku Rasulullah, baik ucapan maupun perbuatannya, maka hendaknya meniru akhlak gurunya yang tidak jauh dari akhlak Rasulullah Saw. Kalau ia tidak bisa mengikuti akhlak gurunya, ia bakal hancur. Maka barangsiapa menghina dan meremehkan tarekat dan para pengikutnya, maka terpaksa tarekat juga akan meremehkan dan menjauhinya. Sedangkan yang dimaksud dengan menghina tarekat, adalah tidak berjalan pada aturan-aturan para pengikutnya.”

Ia juga mengatakan: “Makanan utama para murid di awal perjalanannya adalah kelaparan, hujannya adalah air mata, kebutuhan pokoknya adalah kembali kepada Allah, dan berpuasa hingga tubuhnya lemah lunglai sehingga kelembutan bisa masuk ke dalam hatinya. Adapun orang yang perutnya selalu kenyang, matanya selalu tidur, omongannya tidak bermanfaat, berusaha mencari keringanan syariat, dan mengatakan apa yang tidak ia lakukan, maka ia orang yang perlu dicaci, dan tidak ada sesuatu yang muncul dari perjalanan spiritualnya.”

Ia juga mengatakan: “Tarekat para murid tidak dibangun kecuali di atas dasar gelombang, api, lautan yang gemuruh, kelaparan dan pucat. Tarekat bukanlah dengan omongan dan pembualan. Kemudian ia berkata, “Ah … ah … aku tidak pernah melihat anak-anakku yang mengikuti jejak para tokoh kemudian ia tidak layak ditempati rahasia-rahasia hati.”” Lebih lanjut ia mengatakan: “Khalwatnya seorang murid yang benar adalah pada sajadahnya, sedangkan khalwatnya adalah rahasia dan kesenangannya.”

Ia juga mengatakan: “Di antara syarat murid yang benar hendaknya tidak ada yang membuatnya sakit hati, tidak berbicara dengan sesuatu yang tak bermanfaat, dan tidak pernah mengumpat sama sekali terhadap musibah yang menimpanya. Apabila diuji dengan mendapatkan bencana, ia akan bersabar, dan apabila mampu menguasai orang yang memusuhinya, maka akan memaafkannya. Ia akan memakmurkan bumi dengan jasadnya, dan memakmurkan langit dengan hatinya, di mana cara yang ditempuhnya adalah menahan kejengkelan, pengorbanan dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.” —Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Di antara perilaku yang harus dilakukan murid adalah mengurangi makan dan tidur semampu mungkin, terutama di waktu sahur. Sebab tidur di waktu tersebut tidak ada manfaat duniawinya dan terutama akhiratnya. Sedangkan memperbanyak tidur hanyalah kerugian, sebab tidur adalah saudara kandung kematian.

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi mengatakan: “Bagaimana murid yang benar mengaku cinta tarekat, sementara ia tidur di saat-saat orang yang sedang bangun bisa mendapatkan jarahan dan waktu membuka gudang simpanan, waktu menyebarkan ilmu, dan menampakkan apa yang tersimpan? Apakah murid pembohong ini tidak merasa malu untuk mengaku seperti itu? Sementara kemauannya sudah tidur mendengkur, dan keteguhannya pun padam, sementara dalam kondisi seperti ini ia masih sempat mengaku-ngaku kejujuran!”

Demi Allah, seorang murid yang benar dalam cintanya pada tarekat mesti dan hatinya akan memancarkan hikmah, yang akhirnya akan menyembuhkan orang buta dan belang kulit serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi mengatakan: “Di antara syarat murid yang benar, hendaknya kokoh dalam mencari tarekat sampai tumbuh dan memunculkan ranting-rantingnya. Maka dalam kondisi seperti ini bisa aman dan kemungkinan kembali ke belakang.”

Lebih lanjut ia mengatakan: “Wahai anak-anak hatiku, kalau engkau ingin agar benar-benar jujur bersamaku, maka jauhilah bergaul dengan orang-orang yang biasa berdebat tanpa argumentasi keilmuan, dan jangan sekali-kali salah seorang dari mereka engkau jadikan teman. Sebab ia hanya akan merintangimu dalam menempuh tarekat para ulama yang mengamalkan ilmunya. Dan jadikan temanmu orang alim yang menuntut dirinya untuk mengamalkan ilmunya, kemudian ia tidak menganggap dirinya termasuk jajaran orang-orang berilmu. Sebab dari orang seperti ini engkau akan mendapatkan hikmah.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Seorang murid harus bersabar memikul beban penderitaan yang menyakitkan hatinya, tekun dalam menjalankan ibadah, baik siang maupun malam hari, tidak pernah jenuh dan bosan sampai ia merasakan ketenangan dalam mencintai Allah Azza wa Jalla. Apabila ia sudah merasakan ketenangan untuk mencintai-Nya maka ia tidak akan menoleh kepada yang lain, baik di dunia maupun di akhirat kecuali atas izin-Nya.

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi mengatakan: “Wahai anakku, bila engkau benar-benar jujur dalam keinginanmu, menjernihkan muamalahmu, dan menyucikan rahasia hatimu, makajanganlah engkau mengaku telah mencium bau tarekat, dan jangan melihat dirimu kecuali hanya seorang yang selalu bermaksiat dan bangkrut dari amal saleh. Maka berapa banyak murid yang telah hancur akibat tertipu oleh nafsunya sendiri.”

Ia juga berpesan: “Wahai anakku, jika engkau benar-benar jujur untuk menjadi muridku, maka lakukan segala perintah Allah dengan sungguh-sungguh, berjuanglah dengan sungguh-sungguh, jangan sekali-kali engkau bosan dan kemudian berpaling, jangan mencari keringanan untuk dirimu dalam meninggalkan ibadah sekalipun hanya satu waktu dengan alasan tidak mampu melakukannya. Sebab Dzat Yang menguji adalah Maha melihat.”

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi bila melihat orang yang mengenakan pakaian simbolis kaum sufi, sementara perilakunya menyimpang dari akhlak mereka, maka dia akan mengingatkannya sembari berkata: “Tidak setiap orang yang sudah mengenakan pakaian simbolis kaum sufi mesti jujur dalam pencarian tarekat kaum sufi. Sebab pakaian hanyalah perkara luar, sedangkan amalan kaum sufi adalah bersifat batin. Kami selamanya tidak pernah melihat seseorang yang mengenakan jubah putih dan memanjangkan serbannya sampai ke bawah dan dituliskan ijazah untuknya kemudian ia menjadi guru hanya dengan cara demikian.”

Apabila hati seorang murid tidak bisa lembut, yakni bersih dari segala kotoran, maka dari mata hatinya tidak akan memancarkan sinar, sekalipun ia beramal dengan amal orang-orang saleh. Oleh karenanya kaum sufi menyarankan kepada para murid untuk bertobat dari segala kesalahan agar hatinya bisa bersinar. Dan apabila sinar cahayanya sudah tampak pada orang-orang tertentu atau orang-orang awam, maka adabnya hendaklah ia menutupi dirinya sehingga manusia tidak bisa menyaksikan cahaya tersebut, agar ia bisa keluar dari dunia dengan modal pokoknya secara sempurna dan tanpa kekurangan.

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi juga mengatakan: “Setiap murid yang menyimpan kejelekan, di mana ketika aibnya terbuka akan malu, baik di dunia maupun di akhirat, maka andaikan kejelekan itu terbuka tidak akan muncul apa pun dari tarekat. Betapa aibnya orang berpakaian dengan simbol-simbol kaum sufi, sementara perilakunya melanggar jalan yang ditempuh mereka.”

Ia juga berkata: “Wahai anakku, jika engkau menginginkan agar benar-benar menjadi orang yang jujur dalam keinginanmu, maka pakailah pakaian (gamis) kaum fakir sufi yang bersih, yang mulia dan indah. Tapi masalahnya bukan pada mengenakan pakaian, bukan dengan cara bertempat di pemondokan, bukan dengan cara mengenakan jubah dan pakaian-pakaian bertambal, bukan dengan mengenakan pakaian wol sebagai identitas sufi dan bukan dengan sandal yang bertambal.”

Lebih lanjut ia mengatakan: “Termasuk di antara perilaku seorang murid, hendaknya lembaran (catatan amal)nya tidak ada yang hitam, akan tetapi lembaran-lembaran amalnya setiap harinya dilipat dengan putih bersih yang berisikan amal-amal suci yang diridhai oleh Allah.”

Amal perbuatan seorang murid hendaknya sesuai dengan syariat suci, baik hukum yang bersifat nash (dogma) maupun hasil ijtihad yang bersih dari syathahat menurut lahiriah syariat. Sebab syariat merupakan batas ketentuan yang pasti dan ibarat sebuah pedang tajam yang melindungi. Ini berbeda dengan apa yang dianggap dalamnya syariat yang tidak jelas bagi para ulama aspek pengambilan hukumnya dari Kitab dan Sunnah, maka hal ini tidak bisa dilindungi oleh ketentuan hukum syariat.

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi berkata: “Barangsiapa menginginkan agar ia benar-benar jujur dalam keinginannya, seluruh amal perbuatan dan ucapannya, maka hendaknya menahan dirinya dalam puncak syariat, menyetempelnya dengan stempel hakikat, membunuhnya dengan pedang mujahadat dan memberi minum dengan pahitnya penderitaan.

Di saat menulis permasalahan ini aku benar-benar melihat suatu ilmu dan ciri-ciri kenabian yang saya terima secara pembicaraan lisan dengan sadar, di mana ilmu ini akan membangkitkan semangat murid dan memperteguh keimanannya tentang amal dan syariat. Kemudian saya ingin menulisnya di sini: “Di mana ada seseorang datang kepadaku dengan membawa potongan kepala domba yang sudah dipanggang dan dimakan kulitnya. Di bagian kepala itu tertulis dengan tulisan Ilahiah (Ketuhanan) di atas dahi dan hidung yang lafalnya sebagai berikut:

“Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah, yang Dia utus dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, dengannya Dia akan menunjukkan kepada siapa pun hamba-hamba-Nya yang dikehendaki.”

Saya melihat kata: (siapa pun yang dikehendaki) tertulis berulang kali da!am tulisan Ilahiah. Ini menunjukkan adanya hikmah yang terselubung. Sebab Allah Swt. tidak akan lupa. Andaikan kita tidak memiliki argumentasi (dalil) atas kebenaran syariat dan kerasulan Muhammad Saw, —di mana hal itu merupakan petunjuk dari Allah Swt.— kecuali tulisan Ilahiah yang tertulis di dalam kepala domba yang ter!etak di bawah kulit, tentu hal ini sudah cukup bagi kita untuk menjadi dalil atas kebenaran syariat Muhammad Saw.

Sedangkan huruf-huruf tulisan tersebut bersih dari unsur yang membedakan antara laki-!aki dengan perempuan, tidak seperti kondisi tu!isan yang menggunakan tinta dan juga tidak seperti otot putih atau hitam yang ada di dalam tulang. Mahasuci Allah, Tuhan Peme!ihara alam Yang banyak memberi berkah.

Kami menyaksikan tulisan ini pada tanggal 12 Jumadil Akhir 961 H. Maka setiap orang yang masih memiliki keraguan akan kebenaran akan kerasulan Muhammad Saw dan kemudian melihat tu!isan seperti ini tentu keraguannya akan segera sirna, kecuali memang ia telah ditentukan sebelumnya menjadi orang yang celaka.

Wahai saudaraku, tetaplah engkau mengikuti Sunah Muhammad Saw yang sudah pasti benar, dan benar pu!a paha!a yang dijanjikan dan siksa yang diancamkan. —Dan hanya Allah Yang Mahatahu akan kebenarannya.

Seorang murid juga harus bersabar menahan lapar, bahkan lupa makan secara totalitas, karena hanya sibuk berdzikir kepada Tuhannya.

Asy-Syibli —rahimahullah— mengisahkan: “Selama bertahun-tahun di awal perjalanan spiritual saya tidak makan kecuali hari Jumat, itupun dari makanan Abu al-Qasim al-Junaid. Saya tidak pernah ingat makan kecuali ketika sedang disuguhkan pada hari Jumat. Dan ketika tidak disuguhkan maka tidak pernah terlintas di benak saya tentang makanan.”

Syekh Ibrahim ad-Dasuqi mengatakan: “Kaidah tarekat bagi si murid dan sekaligus yang bisa memperkokoh dan menerangi adalah lapar. Sebab ini yang bisa menyucikan tempat-tempat iblis dari dalam tubuh. Maka barangsiapa menginginkan kebahagiaan, maka hendaknya selalu menjadikan dirinya lapar dengan cara yang dibenarkan oleh syariat, dan tidak makan kecuali memang sangat membutuhkan. Barangsiapa mencari minum tanpa menggunakan pantangan, maka akan salah dalam mencari kesembuhan. Sebagai mana yang telah saya sebutkan di muka, bahwa lapar merupakan salah satu rukun tarekat yang ada empat menurut para wali abdal, yaitu lapar, tidak tidur malam, ‘uzlah (menjauh dari orang), dan diam tanpa bicara.

Barangsiapa lapar maka tiga rukun tarekat yang lain secara otomatis akan mengikut. Ini berbeda bila dibalik, sebab orang yang lapar dadanya akan merasa sumpek dengan manusia, akibatnya ia lebih suka ‘uzlah, berat untuk berbicara yang tidak ada gunanya, dan susah untuk tidur. Ini dengan bukti, bahwa orang yang sakit apabila ia sudah sembuh dari sakitnya, maka dalam waktu beberapa hari berikutnya tidak bisa tidur sehingga orang lain herusaha menyembuhkannya supaya bisa tidur dengan memberi buah-buahan segar, karena selama ia sakit kurang makan. Ini untuk mengurangi kadar air yang ada dalam tubuh yang bisa mengakibatkan mudah tidur.

Maka barangsiapa perutnya dalam kondisi kenyang, lalu ia ingin bisa diam tanpa bicara atau ingin tidak tidur waktu malam atau menjauh dari manusia untuk berbuat taat kepada Allah tanpa diganggu oleh pikiran-pikiran yang menyibukkan hatinya, sehingga ia bisa menghadap kepada Allah secara sempurna, maka ia tidak akan mampu menjalankannya. —Dan hanya Allah Yang Mahatahu

Copy dari http://www.sufinews.com