AL-I’TIRAF

terbaik-itirof

Dengar disini

Ya Tuhanku…

Aku tidaklah pantas menjadi ahli syurga firdausMu

Namun aku juga tak kan sanggup masuk ke neraka jahimMU.

Oleh karena itu, terimalah taubatku dan tutupilah dosa – dosaku.

Sesungguhnya Engkau maha mengampuni dosa – dosa besar.

Dosa – dosa ku seperti hamparan pasir di laut

Maka terimalah taubatku wahai Dzat yang Maha Agung…

Umurku terus berkurang setiap hari

Namun dosa – dosaku bertambah setiap hari…

Bagaimana aku mampu menanggungnya ?

Ya Tuhanku…

HambaMu yang berlumur dosa ini datang kepadaMU

Sesungguhnya aku benar – benar berdosa kepadaMU

Dan bila Engkau tidak mengampuni aku

Kepada siapa lagi aku berharap selain Engkau?

Puisi Kehidupan

Bila musim memberimu dengan kesedihan

Katakanlah, dengan penghinaan yang menakutinya

Sejenak akan tampak maunya

Dan selesai setiap urusannya

Allah meminumkan pada waktu ketika aku menyepi dari wajahmu

Sedang sirnanya cinta di taman sukaria tertawa

Kami menghuni masa

Sedang mata terasa sejuk

Suatu hari jadilah ciumanmu pelupuknya.

Bila engkau sesaat bersama kami tidaklah engkau bersama kami

Engkau saksikan ketika pamit berpisah

Engkau yakin di antara tetesan air mata penuh ungkapan kata kata

Engkau pun tahu di antara kata kata pun penuh air mata.

MENYATU DALAM CINTA

Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit.

Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.

Para tabib menyarankan bedah,

“Sebagian darah dia harus dikeluarkan,

sehinggu suhu badan menurun.

”Majnun menolak,

“Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.

”Para tabib pun bingung,

“Kamu takut?

padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri.

Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya.

Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”

“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.

“Lalu, apa yang kau takuti?”

“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”

“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yang dibedah badanmu.”

“Justru itu. Layla berada di

dalam setiap bagian tubuhku.

Mereka yang berjiwa cerah,

tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”

Pendapat Ulama Mengenai Tasawuf Dan Toriqah

Syekh Zakaria al-Anshari mendefinisikan Tasawuf sebagai berikut :

التصوف علم تعرف به أحوال تزكية النفس وتصفية الأخلاق وتعمير الظاهر والباطن لنيل السعادة الأبدية

Tasawuf adalah sebuah disiplin ilmu untuk mengetahui cara-cara membersihkan hati dan memuliakan akhlaq serta membangun jiwa dan raga demi meraih kebahagiaan yang kekal abadi.

Sehingga orang Sufi adalah sebagaimana perkataan Syekh Muhammad Mitwalli al-Sya’rawi :

إن الصوفي هو الذي يتقرب إلى الله بفروض الله ثم يزيدها بسنة رسول الله من جنس ما فرض الله وأن يكون عنده صفاء في استقبال أقضية العبادة فيكون صافياً لله، والصفاء هو أن تصافي الله فيصافيك الله

Seseorang dikatakan Sufi apabila ia mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah wajib dan sunnat, memiliki kejernihan hati saat mengabdi sehingga menjadi suci karena Allah. Kesucian yang sesungguhnya adalah apabila kita mensucikan Allah maka Allah pun mensucikan kita.

Demikianlah sekelumit pengantar bahwasanya ilmu Tasawuf adalah ilmu yang mulia dan sangat urgen sebagaimana dinyatakan oleh para ulama’ di atas. Adapun istilah Tasawuf yang tidak pernah ada di zaman Rasul dan Sahabat maka Dr. Muhammad Sa’id Ramadlan al-Buthi mengatakan :

التصوف إسم حادث لمسمى قديم إذ إن مسماه لا يعدو كونه سعيا إلى تزكية النفس من الأوضار العالقة به عادة كالحسد والتكبر وحب الدنيا وحب الجاه وذلك ابتغاء توجيهها إلى حب الله عز وجل والرضا عنه والتوكل عليه والإخلاص له

Tasawuf memang merupakan istilah baru namun substansinya sudah lama menjadi anjuran buat kita, sebab Tasawuf tiada lain adalah usaha untuk mensucikan qolbu dari segala kotoran yang sudah terlanjur melekat seperti dengki, sombong, cinta dunia dan tahta, dan semua itu dialihkan kepada cinta Allah, ridho Allah, tawakal kepada Allah serta ikhlas karena dan untuk Allah Swt. semata.

Memanglah benar para imam-imam mazhab terdahulu tidak memnulis banyak dan khusus tentang ilmu Tasawuf namun Syekh Abdul-Wahhab al-Sya’rani Ra. mengatakan :

إِنما لم يضع المجتهدون في ذلك كتاباً لقلة الأمراض في أهل عصرهم وكثرة سلامتهم من الرياء والنفاق ثم بتقدير عدم سلامة أهل عصرهم من ذلك فكان ذلك في بعض أناس قليلين لا يكاد يظهر لهم عيب وكان معظم همة المجتهدين إِذ ذاك إِنما هو في جمع الأدلة المنتشرة في المدائن والثغور مع أئمة التابعين وتابعيهم التي هي مادة كل علم وبها يُعرف موازين جميع الأحكام فكان ذلك أهم من الإشتغال بمناقشة بعض أناس في أعمالهم القلبية

Para imam mujtahid terdahulu tidak banyak menyusun buku tentang ilmu Tasawuf sebab penyakit hati belum meraja lela saat itu sehingga yang menajadi konsentrasi mereka adalah mengumpulkan nash-nash dari para Tabi’in dan Tabi’it-Tabi’in untuk membuat kaidah-kaidah serta menetapkan hukum-hukum syari’at. Hal itu lebih penting dari pada membahas masalah-masalah batin yang hanya menimpa sebagian orang saja.

Namun disamping konsentrasi pada ilmu fiqh, imam-imam tersebut juga sempat menyinggung tentang urgensi Tasawuf disamping fiqh sebagaimana perkataan pendiri Mazhab Maliki; Imam Malik bin Anas Ra. :

من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق ومن جمع بينهما فقد تحقق

Barang siapa bertasawuf tanpa bertafaqquh maka ia zindiq, barang siapa bertafaqquh tanpa bertasawuf maka ia fasiq, dan barang siapa menggabungkan dua-duanya maka ia telah berhasil (sampai kepada hakekat).

Sedangkan pendiri Mazhab Syafi’i; Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i Ra. mengatakan :

فقيها وصوفيا فكن ليس واحدا # فإني وحق الله إياك أنصح

فذلك قاس لم يذق قلبه تقى # وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح

Jadilah Faqih sekaligus Sufi, jangan jadi salah satu..

Demi Allah aku menasehatimu!

Faqih saja, tak bertaqwa, keras hatinya..

Sufi saja, tak berilmu, bagaimana bisa baik selalu?

Adapun pendiri Mazhab Hanbali; Imam Ahmad bin Hanbal Ra. mengatakan :

عليك بمجالسة هؤلاء القوم فإنهم زادوا علينا بكثرة العلم والمراقبة والخشية والزهد وعلو الهمة، ولا أعلم أقواما أفضل منهم

Bergaullah dengan kaum Sufi sebab mereka telah memberikan banyak ilmu, menambah semangat beribadah dan rasa takut kepada Allah, memudahkan muraqabah serta zuhud, dan menurutku tidak ada golongan yang lebih mulia dari mereka.

Setelah mengetahui betapa pentingnya bertasawuf maka dapat disimpulkan bahwasanya Tasawuf hukumnya wajib sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ghazali Ra. :

الدخول مع الصوفية فرض عين إذ لا يخلو أحد من عيب إلا الأنبياء عليهم الصلاة والسلام

Bergabung dengan kaum Sufi adalah fardu ain sebab tiada satupun bebas dari cacat hati melainkan para nabi.

Kata Imam Junaid al-Baghdadi Ra. :

إذا أراد الله بعبد خيرا أوقعه إلى الصوفية ومنعه صحبة القراء

Bila Allah menghendaki yang baik kepada seorang hamba, Ia akan menggabungkannya dalam golongan Sufi dan menjauhkannya dari mereka yang hanya membaca saja!

Perkataan Imam Ghazali dan Imam Junaid dikuatkan lagi oleh perkataan Syekh Abul-Hasan al-Syadzuli Ra. :

من لم يتغلغل في علمنا هذا مات مصرا على الكبائر وهو لا يشعر

Barang siapa tidak mau mendalami ilmu Tasawuf maka ia akan mati dalam keadaan penuh dosa besar tanpa ia merasakannya!

Syekh Ahmad al-Qath’ani mengatakan :

فعلم التصوف من أشرف العلوم الشريفة وأنفع المعارف السامية المنيقة، رفيع القدر حميد الأثر، يزكي النفوس ويصقل القلوب ويهذب الطباع، يسير بالروح إلى بارئها ويحدو بها إلى خالقها، يستبدل الخبيث بالطيب والسيء بالحسن . وأهله هم أهل الله وخاصته الدالون عليه تعالى الواقفون بالإخلاص بين يديه في الفرق والجمع والعطاء والمنع، أهل الأدب الرفيع الراقي والسمو الأخلاقي، طريقهم أصوب الطرق ومنهجهم الإخلاص والصدق، ولو جمع عقل كل ذي عقل وحكمة كل ذي حكمة ليحسنوا ما هم عليه ما وجدوا إلى ذلك طريقا، فقد تشبعت بواطنهم وظواهرهم بنور الهداية المحمدي، وما بعده نور ولا هدى

Ilmu Tasawuf merupakan sebaik-baik ilmu dan pengetahuan yang paling bermanfaat, paling agung dan paling suci, kedudukannya tinggi, pengaruhnya terpuji, membersihkan nurani, meneguhkan hati, mendidik prilaku, membawa jiwa kepada pemiliknya, mengantar cinta kepada penciptanya, menggantikan yang buruk dengan yang baik, menggantikan yang busuk dengan yang wangi. Ahli Sufi adalah Ahli Allah, pilihan-pilihan Allah, orang-orang yang menjadi guide kepada Allah, yang selalu ikhlas dan ridho dalam keadaan apapun; berpisah, bertemu, diberi ataupun ditolak. Mereka memiliki etika yang tinggi serta akhlaq yang melangit, jalan mereka adalah jalan yang paling benar, metode mereka adalah ketulusan dan keikhlasan. Setiap orang berakal dan setiap orang bijak tidak akan mampu memuji kaum Sufi sebab jiwa-raga mereka telah dipenuhi cahaya dan petunjuk, dan tidak ada lagi cahaya dan petunjuk setelahnya!

Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi Ra. menguatkan dan membenarkan semua pernyataan ulama’ di atas, beliau menambahkan bahwasanya kata Tasawuf berasal dari kata Shafa’ yang artinya kesucian, maka kata Sufi sebetulnya merupakan fi’il madhi mabni lil-majhul yang artinya disucikan sebagaimana halnya kata Ufi atau Syufi yang artinya disembuhkan dan kata Nudi yang artinya dipanggil. Kata shafa’ (kesucian) telah disebutkan dengan jelas dalam al-Qur’an yang berbunyi :

” يا مريم إن الله اصطفاك وطهرك واصطفاك على نساء العالمين “

Betapa banyak yang keberatan dengan Tasawuf hanya karena istilahnya tidak ada pada zaman Nabi dan Sahabat, padahal banyak ilmu-ilmu lain juga yang tidak kita dengar pada zaman Nabi seperti ilmu Manthiq, ilmu Qawafi wa Arudl, ilmu Asybah wa Naza’ir, ilmu Jarh wa Ta’dil, dll. Mengapa mesti ilmu Tasawuf saja yang diteror? Perlu diketahui bahwa isi lebih penting dari sekedar istilah atau nama! Dan ruang lingkup ilmu Tasawuf tidak keluar dari tuntunan dan tuntutan ajaran islam yang semurni-murninya.

Adapun istilah Thariqah atau Tarekat maka Imam Qusyairi mengatakan :

الطريقة هي مجموعة الآداب والأخلاق والعقائد التي يتمسك بها طائفة الصوفية

Thariqah tiada lain adalah etika dan akhlaq serta keyakinan yang dianut oleh kaum sufi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang sufi otomatis berthariqah! Syekh Abu Thalib al-Makki mengatakan :

إن طريق الصوفية عبارة عن تقديم المجاهدة ومحو الصفات المذمومة وقطع العلائق كلها والإقبال بكنه الهمة على الله تعالى

Tarekat Sufi merupakan sebuah usaha untuk membasmi sifat-sifat keji dan menembus segala yang menghalangi ke jalan Allah, kemudian dengan penuh himmah menghadap Allah Swt.

Sedangkan Syekh Abdul-Halim Mahmud Ra. mengatakan :

الطرق الصوفية وسائل لتزكية النفس وتهذيب الخلق وتحسين السلوك والسير بالمريد في طريق الإتباع العملي للرسول صلى الله عليه وسلم ليكون مؤمنا حقا ومسلما صدقا

Tarekat-Tarekat Sufi adalah jalan-jalan yang lurus menuju penyucian jiwa, perbaikan akhlaq, dan pengamalan yang sempurna terhadap Sunnah Rasul Saw. agar menjadi orang yang benar-benar muslim dan mukmin.

Adapun Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi Ra. mendefinisikan Thariqah sebagai berikut :

الطريقة دعوة إلى الله ورسوله لإحياء السنة ونبذ البدعة بالحكمة والموعظة الحسنة ولها شيخ سيفه ودرعه كتاب الله وسنة رسوله وتجب على المريد طاعة الشيخ كطاعة المأموم للإمام في الصلاة لا تخلو عن كونها طاعة لله

Thariqah adalah seruan kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menghidupkan Sunnah dan mengikis Bid’ah dengan Hikmah dan Mau’izah Hasanah, dan Thariqah dipimpin oleh seorang Syekh yang berpedangkan al-Qur’an dan berprisaikan Sunnah. Dan wajib bagi seorang murid mentaati dan mengikuti Syekhnya sebagaimana wajibnya ma’mum mentaati dan mengikuti imamnya dalam solat, yang mana hal tersebut tidak keluar dari taat kepada Allah Swt.

Adapun sejarah perkembangan dan didirikannya Tarekat-Tarekat Sufi maka berawal sejak Nabi memberikan lafaz-lafaz dzikir yang berbeda kepada para sahabat yang kemudian para sahabat (khususnya Imam Abu Bakr dan Imam Ali) menurunkannya kepada penerus-penerus selanjutnya sehingga golongan yang berdzikir dengan dzikir Imam Abu Bakr Ra. dinamakan dengan Thariqah Khalwatiyah, sedangkan golongan yang berdzikir dengan dzikir Imam Ali Ra. disebut Thariqah Naqsyabandiyah. Selanjutnya pada masa Imam Junaid Ra. kedua Thariqah tersebut disatukan sampai akhirnya dibenahi kembali dan disempurnakan pada masa wali kutub yang empat sehingga mulai bercabang banyak namun semuanya berasalkan dan bertujuankan satu.

Berdirinya Tarekat-Tarekat Sufi akhir zaman ini ibarat berdirinya sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit, dipandang perlu karena memperhatikan banyaknya kebodohan dan penyakit, begitu juga setelah maksiat dan kekotoran hati meraja-lela maka dipandang perlu mendirikan perguruan-perguruan spiritual oleh para auliya’ yang disebut dengan Thariqah, sebagaimana halnya juga dengan berdirinya mazhab-mazhab fiqh oleh para imam syari’at pada masa-masa jauh setelah masa Nabi karena memang dipandang perlu pada masa itu.

Begitu banyak sekolah, madrasah dan universitas yang didirikan namun tujuannya sama, demikian juga banyaknya rumah sakit yang didirikan tidak menafikan bahwa tujuannya satu yaitu menyembuhkan orang-orang sakit, maka banyaknya Tarekat Sufi yang berkembang sampai saat ini juga tidak berbeda tujuannya yaitu ridho Allah dan Rasul-Nya Saw. Imam al-Bushairi mengatakan :

فكلهم من رسول الله ملتمس # غرفا من البحر أو رشفاً من الديم

Syekh Muhammad Mitwalli al-Sya’rawi mengatakan :

وكل إنسان وصل إلى الله بطريق من الطرق أو صيغة من الصيغ يعتقد أن الطريق الذي سلكه إلى الله هو أقصر الطرق ولذلك اختلف الناس لأن وسائل عبادة الله متعددة فإذا دخل إنسان من باب وطريق وأحس أنه نقله وأوصله إلى الله بادر إلى نقله لمن يحب، ومن هنا فإن معنى أن هناك طرقا صوفية كثيرة هو أن أناسا وصلوا إلى الصفاء من الله سبحانه وتعالى وجاءتهم الإشراقات والعلاقات التي تدل على ذلك في ذواتهم فعلموا أن الطريق الذي سلكوا فيه إلى الله صحيح وكلما زادوا في العبادة زاد الله في العطاء

Syekh Abdul-Halim Mahmud Ra. juga mengatakan :

يقول السادة الصوفية : التوحيد واحد والطرق إلى الله كنفوس بني آدم . ويعني قولهم هذا هو أن نتيجة سلوك الصوفية لا تختلف من قطر لقطر ولا من زمن لزمن ولا من شخص لشخص، إنها التوحيد، توحيد الله سبحانه في ذاته وتوحيده في خلقه وتصوفه وفي عنايته بالكون ورعايته ألا له الخلق والأمر إليه يرجع الأمر كله . وإذا كان التوحيد واحدا وإذا كانت هذه الحقيقة من طبيعتها لا تتغير ولا تختلف فإن طريق القرب من هذه الناحية طريق تذوقها اليقين، فالطرق تختلف والثمرة واحدة . أما السبب في اختلاف الطرق فهو أن طبائع الناس وفطرهم مختلفة يصلح لبعضها ما لا يصلح للبعض الآخر وقد يصلح لسلوك طريق ولا يصلح لسلوك طريق آخر وقد يصلح طريق لشخص ولا يصلح لآخر . والناس منذ أن وجد الناس يحاولون جهدهم التقرب من الله لأن في القرب من الله كمالا ذاتيا وذلك أن الله هو الكمال المطلق فالقرب منه سبحانه قرب من الكمال، وقد ورد ” تخلقوا بأخلاق الله ” وورد ” كونوا ربانيين ” والناس كذلك يحاولون جهدهم القرب من الله لأنه من كان قريباً من الله كان الله قريباً منه بالرعاية والعناية والتوفيق، وسلك الناس طرقا إلى الله مؤسسة على الأساس العام وهو الشريعة . سلك بعضهم طريق الذكر على الخصوص وسلك بعضهم طرق الصوم على الخصوص وسلك بعضهم طرق الصلاة على الخصوص وهكذا . ونجحت بعض هذه المسالك في الوصول إلى القرب من الله فرسمها من نجحت معه طريقا وبينها سبيلا ودعا إليها مسلكا وذاعت فكانت طريقة صوفية، وهذا منشأ الطرق . إنها لا تعدو أن تكون إبرازا لزاوية معينة من زوايا الشريعة دون إهمال لسائرها بل من التمسك بسائرها، ومن أهمل شريعا من الشريعة فليس من التصوف في شيء

Dr. Muhammad Ahmad Darniqah mengatakan :

اختلفت أسماء الطرق باختلاف أسماء مؤسسيها كاختلاف أسماء المدارس والجامعات، والخلافات التي كانت – ولا تزال – تنحصر في المنهج التربوي والرسوم العملية فقط كالزي والأوراد والأحزاب وغيرها . أما الغاية القصوى من الطرق الصوفية جميعها تتمثل في غاية خلقية هي إنكار الذات والصدق في القول والعمل والصبر والخشوع ومحبة الغير والتوكل وتزكية النفس والتقرب إلى الله وغير ذلك من الفضائل التي دعا الإسلام إليها . فقد كان مشايخ الطرق يطلبون من المريدين التوبة عن المعاصي والذنوب والإستجابة لله ولرسوله عليه الصلاة والسلام واتباع السنة وكثرة الإستغفار وأداء الواجبات وامتثال الأوامر واجتناب النواهي والعمل بالشريعة وتطهير القلب وتزكية النفس وإصلاح المعتقد، كما كانوا يلقنونهم الأذكار المأثورة ويحذرونهم من الآفات الإجتماعية ويحضونهم على حب الله والسعي لنيل رضاه وحب الرسول والصالحين

Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani Ra. mengatakan :

ما أبشع ادعاء المبطلين عندما ينكرون على تعدد الطرق التي هي مدارس التصوف ويقولون : إن الله واحد والدين واحد والرسول صلى الله عليه وسلم واحد والسنة واحدة والكتاب واحد فما هي دواعي التفرقة ؟!؟ وينادون بأن يجتمع كل المسلمين على طريقة واحدة، وما أبلغ الرد عليهم لإحباط حجتهم وقمع بدعتهم بأن هذا تطاول على الله، فالله واحد ورسالات الأنبياء متعددة، فلماذا لم يرسل الله رسله برسالة واحدة شكلا وموضوعا وتتكرر هذه الرسالة على مر العصور ؟ لكن الله سبحانه وتعالى جعل لكلٍ شرعةً ومنهاجا وقال تعالى : ” ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ” .. فهذا طعن في مشيئة الله سبحانه وتعالى

Sedangkan Maulana Syekh Mukhtar Ra. menambahkan bahwasanya banyaknya pintu menandakan luasnya rumah, banyaknya keran menandakan banyaknya air, maka banyaknya Thariqah (jalan menuju Allah) menandakan mudah dan besarnya rahmat, ampunan dan ridho Allah Swt.

Setelah membaca penjabaran di atas maka dapat disimpulkan bahwasanya kita semua sangat membutuhkan Tasawuf dan Thariqah untuk dijadikan pegangan dalam perjalanan spiritual menuju Allah dan Rasul-Nya sebagaimana kita berpegang kepada sebuah mazhab dalam menjalani syari’at islam.

Seorang bertanya kepada Mufti Mesir; Dr. Ali Jum’ah al-Syafi’i: Mengapa harus mempelajari akhlaq dan etika serta pembersihan hati dari ilmu Tasawuf? kenapa tidak langsung saja dari al-Qur’an dan Sunnah? Dr. Ali Jum’ah menjawab :

هذا كلام ظاهره فيه الرحمة وباطنه من قبله العذاب لأننا ما تعلمنا أركان الصلاة وسننها ومكروهاتها بقراءة القرآن والسنة وإنما تعلمنا ذلك من علم يقال له علم الفقه صنفه الفقهاء واستنبطوا كل تلك الأحكام من القرآن والسنة، فماذا لو خرج علينا من يقول : نتعلم الفقه وأحكام الدين من الكتاب والسنة مباشرة، ولن تجد عالما واحدا تعلم الفقه من الكتاب والسنة مباشرة . وكذلك هناك أشياء لم تذكر في القرآن والسنة ولابد من تعلمها على الشيخ ومشافهته ولا يصلح فيها الإكتفاء بالكتاب كعلم التجويد بل والإلتزام بالمصطلحات الخاصة به، فيقولون مثلا : المد اللازم ست حركات، فمن الذي جعل ذلك المد لازما ؟ وما دليل ذلك ؟ ومن ألزمه للناس ؟ إنهم علماء هذا الفن . كذلك علم التصوف علم وضعه علماء التصوف من أيام الجنيد رضي الله عنه من القرن الرابع إلى يومنا هذا

Orang yang mengatakan bahwa belajar dari al-Qur’an dan Sunnah saja cukup dan lebih baik maka perkataan itu manis di telinga namun meracuni hati penerimanya, sebab tidak ada dari kita yang mengetahui rukun-rukun solat, sunnat-sunnta solat maupun makruh-makruh solat langsung dari Qur’an dan Sunnah, melainkan dari sebuah disiplin ilmu yang disebut ilmu Fiqh yang telah digagas oleh para ulama’ yang mengistinbath semua hokum tersebut dari Qur’an dan Hadits. Bagaimana kalau ada yang mengatakan: Jangan belajar hukum-hukum islam dari ilmu Fiqh tapi belajar langsung dari Qur’an dan Sunnah saja? Ketahuilah bahwa sekarang tidak ada satupun orang alim yang belajar Fiqh langsung dari Qur’an dan Sunnah. Ketahui juga bahwa ada beberapa hal yang tidak dapat diketahui langsung dari Qur’an dan Sunnah, melainkan harus dari seorang guru, dari buku-pun tidak cukup, seperti ilmu Tajwid dan kaidah-kaidah khasnya, contohnya: Mad Lazim enam harokat, siapa yang menjadikan mad itu lazim? apa dalilnya? dan siapa yang melazimkannya kepada kita? Mereka adalah ahli-ahli ilmu Tajwid. Begitu juga ilmu Tasawuf; sebuah disipiln ilmu yang digagas oleh ulama’ Tasawuf semenjak masa Imam Junaid pada abad keempat sampai saat ini.

Bila telah disepakati tentang kewajiban bertasawuf dan bertarekat maka bolehkah bertarekatkan lebih dari satu atau bahkan banyak? Maulana Syekh Mukhtar Ra. menjawab bahwa hal tersebut tidak boleh sebab seorang murid laksana pasien yang harus memasuki satu rumah sakit dan mengikuti resep satu orang dokter, apabila mengkonsumsi banyak obat melalui resep banyak dokter maka akan over dosis. Begitu juga apabila membaca banyak wirid dari banyak Syekh maka rohnya bisa berantakan! Apabila mencampur-adukkan banyak mazhab (talfiq) maka syari’atnya akan kacau! Semua baik dan benar, semua satu tujuan, namun demi keselamatan kita harus melalui satu jalan saja! Banyak jalan menuju Jakarta tapi apakah dapat menempuh semua jalan itu dalam satu waktu? Banyak kendaraan umum menuju Bogor namun apakah dapat menaiki semua kendaraan itu dalam satu waktu dan satu perjalanan? Di setiap masjid ada imam solat, apakah dapat menjadi ma’mum di semua masjid itu dalam satu waktu? Banyak sekali laki-laki di muka bumi ini, apakah boleh seorang perempuan menikahi dua lelaki saja dalam satu waktu?

Imam Abdul-Wahhab al-Sya’rani Ra. mengatakan :

ومن شأنه أن لا يكون له إلا شيخ واحد فلا يجعل له قط شيخين لأن مبنى طريق القوم على التوحيد الخالص

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi Ra. berkata :

اعلم أنه لا يجوز لمريد أن يتخذ له إلا شيخا واحدا لأن ذلك أعون له في الطريق وما رأينا مريدا قط أفلح على يد شيخين فكما أنه لم يكن وجود العالَم بين إلهين ولا المكلف بين رسولين ولا امرأة بين زوجين فكذلك المريد لا يكون بين شيخين

Syekh Abu Yazid al-Busthami Ra. berkata :

من لم يكن له أستاذ واحد فهو مشرك في الطريق والمشرك شيخه الشيطان

Syekh Ali al-Murshefi berkata :

من ابتلي بصحبة شيخين فأكثر فليجعل شيخه الحقيقي في حاشية قلبه بجانب محبة رسول الله صلى الله عليه وسلم لأنه نائب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في نصح أمته وإرشادهم إلى طرق الهدى

Dan amat perlu mengamati firman Allah di bawah ini yang jelas-jelas menganjurkan kita untuk taslim kepada satu orang saja :

” ضرب الله مثلا رجلا فيه شركاء متشاكسون ورجلا سلما لرجل هل يستويان مثلا الحمد لله بل أكثرهم لا يعلمون “

Bolehkah pindah tarekat? Boleh-boleh saja dengan alasan-alasan yang bisa diterima, misalnya syekhnya ternyata tidak benar-benar syekh yang kamil, atau karena telah menemukan tarekat yang lebih tinggi dan unggul dan lain sebagainya. Boleh saja pindah rumah sakit atau pindah sekolah dengan berbagai alasan yang masuk akal, maka boleh juga pindah mazhab atau tarekat dengan berbagai alasan yang masuk akal dan hati. Yang penting jangan dicampur-adukkan! Syekh Abdul-Halim Mahmud Ra. mengatakan :

وأما الدخول في طريقة أخرى بعد ذلك فلا مانع منه ما دام الدخول بقلب سليم ورغبة صادقة في التطهر والتزكي، وعلى من يريد الدخول في أي طريقة أن يقتنع أولا بأهمية هذا الدخول وأن يصدق في العزم عليه

Tasawuf dan Tarekat apakah boleh buat semua umur dan semua orang? atau hanya untuk mereka yang sudah tua, sudah berpendidikan dan sudah faham syari’at? Perlu diketahui bahwasanya inti Tasawuf dan Thariqah adalah dzikir, selawat, cinta ahlul-bait, mengikuti wali mursyid dan mengamalkan semua ajaran islam dengan sebaik-baiknya. Apakah semua itu hanya untuk yang sudah tua saja? Apakah perintah untuk berdzikir dan berselawat hanya untuk yang sudah berpendidikan saja? Apakah anak-anak kecil belum boleh mencintai ahlul-bait dan mengikuti pewaris Rasul? Justru dengan Thariqah-lah kita mengamalkan syari’at dengan benar dan sempurna!

Oleh karena itu dalam Thariqah terdapat marhalah-marhalah suluk tertentu untuk masing-masing umur sesuai resep Syekh yang memang ahli di bidangnya, yang disebut spesialis dzikir (ahli dzikir), Allah berfirman :

” فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون “

Jangan sekali-kali difahami bahwa Thariqah hanya mengajak kepada berdiam lama dalam rumah, mengabaikan syari’at dan melalaikan kewajiban sehari-hari! Thariqah justru menghimbau kepada kejayaan di dunia dan akhirat serta kesuksesan intlektual maupun spiritual.

 Maka setelah mengetahui dan memahami pendapat ulama mengenai makna tasawuf dan toriqah, berikut penulis sampaikan jumlah nama-nama Toriqah Mu’tabaroh berdasarkan kesepakatan JATMAN – NU :

  1. Rumiyyah

  2. Rifaiyyah

  3. Sa’diyyah

  4. Bakriyyah

  5. Justiyyah

  6. Umariyyah

  7. Alawiyyah

  8. Abasiyyah

  9. Zainiyyah

  10. Dasuqiyyah

  11. Akbariyyah

  12. Bayumiyyah

  13. Malamiyyah

  14. Ghoibiyyah

  15. Tijaniyyah

  16. Uwaisiyyah

  17. Idrisiyyah

  18. Samaniyyah

  19. Buhuriyyah

  20. Usyaqiyyah

  21. Kubrowiyyah

  22. Maulawiyyah

  23. Jalwatiyyah

  24. Baerumiyyah

  25. Ghozaliyyah

  26. Hamzawiyyah

  27. Haddadiyyah

  28. Matbuliyyah

  29. Sumbuliyyah

  30. ‘Idrusiyyah

  31. Utsmaniyyah

  32. Syadliliyyah

  33. Sya’baniyyah

  34. Kalsyaniyyah

  35. Khodliriyyah

  36. Syathoriyyah

  37. Khalwatiyyah

  38. Bakdasiyyah

  39. Syuhrowardiyyah

  40. Thoriqoh Ahmadiyyah

  41. ‘Isawiyyah Ghorbiyyah

  42. Turuqi Akabiril – Auliyyak

  43. Qodiriyyah wa-Naqsyabandiyyah

  44. Kholidiyyah wa-Naqsyabandiyyah

  45. Haqqaniah wa Naqsyabandiyah

  46. Ahli Muzalamatil-Qur’an was-SunnahWadaailil Khoiroti Wata’limi-Fathil Qoribi Au-Kifayatul-Awami.

Keterangan

Nama-nama Thoriqoh yang terdapat dalam kitab ini antara lain :

  1. Ar-Rosyahat

  2. An-Nafahat

  3. At-Tajiyah

  4. Al-Khodimi

  5. Al-Khitoob

  6. Al-Ghunbah

  7. Al-Manaqib

  8. Bahjatul Asror

  9. Nadhatul-Qudsi

  10. Futuhatul-Ghoib

  11. Qolaidul Jawahir

  12. Miftahul-Ma’iyyah

  13. Al-Ghautsiyah

  14. Ar-Risalatul Qudsiyah

  15. Maktubatul-Imam Ar-Robbani

  16. Majmu’aturrosail ‘ala Ushulil-Kholidiyah

  17. Dan lain-lain

Nama-nama Toriqah tersebut dinamakan mu’tabarah, sebab muttashil (tersambung) sanaduha bi Rosulillah SAW yaitu tersambung sanadnya hingga sampai ke Rosulullah SAW. Dan ajarannya diatur dalam kitab masing-masing.

Sumber : Lihat disini (Dengan ada penambahan teks dari penulis)

BERITA DUKA NASIONAL

Assalamualaikum Wr. Wb
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Berita duka telah meninggal dunia imam besar Masjid Istiqlal (2004-2015), KH Ali Mustafa Ya’qub pagi ini, Kamis (28/4).

Pengasuh Pesantren mahasiswa Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan ini wafat pada pukul 06.00, di Rumah Sakit Hermina, Ciputat.

Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG (TERINSPIRASI ALQURAN)

Assalamu alaikum wr wb,

Tersebut dalam kisah bahwa RA. Kartini selalu menulis surat curahan hati pada kawan-kawannya, berikut penuturan sejarah.

RA.Kartini ,Putri kebanggaan indonesia yang lahir di Jepara 21 April 1879.Sebelum Mengaji Mendalami ALQur’an

RA Kartini  dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, menulis:

“Mengenai agamaku Islam Stella, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.”

“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.”

“Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon:

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.”

“Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Sedangkan Alquran teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.”

RA KARTINI SETELAH MEMAHAMI ALQURAN

Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat.

Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir QS Al Fatihah [1]: 1-7.

Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, RA Kartini seakan tak sempat memalingkan pandangan matanya dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini RA Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, RA Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.

Sang paman tak bisa mengelak, karena RA Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog RA Kartini-Kyai Sholeh.5

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar RA Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. RA Kartini melanjutkan:

“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah SWT. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Alquran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali: “Subhanallah!” RA Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar, menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz.

Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan RA Kartini.

RA Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Alquran yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah QS Al Fatihah [1]: 1-7 sampai QS Ibrahim [14]: 1-52.

RA Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya.

Sayangnya, RA Kartini tidak pernah mendapat terjemahan 100 surat Alquran berikutnya yaitu QS Al Hijr [15]: 1-99 sampai dengan QS An Naas [114]: 1-6, karena Kyai Sholeh keburu meninggal dunia.

MENGAPA FOTO RA KARTINI TIDAK BERHIJAB

Wajar kalau foto RA Kartini kita dapatkan sekarang belum berhijab, karena RA Kartini belum sempat membaca perintah Allah SWT agar muslimah berhijab kita dapatkan dalam QS An Nuur [24]: 31 dan QS Al Ahzab [33]: 59 karena Kyai Sholeh Darat keburu wafat belum sempat menerjemahkan 100 surat berikutnya yaitu QS Al Hijr [15]: 1-99 sampai dengan QS An Naas [114]: 1-6.

TRANSFORMASI SPIRITUAL RA KARTINI

Kyai Sholeh membawa RA Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan RA Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat RA Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon:

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.”

“Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.”

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, RA Kartini juga menulis:

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai.”

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, RA Kartini menulis:

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”

RUJUKAN RA KARTINI “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari GELAP GULITA kepada CAHAYA TERANG BENDERANG dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”

(QS Ibrahim [14]: 1)

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari GELAP GULITA kepada CAHAYA YANG TERANG BENDERANG dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”

(QS Al Maa’idah [5]: 16)

Katakanlah:

“Siapakah Tuhan langit dan bumi?”

Jawabnya:

“Allah.”

Katakanlah:

“Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai KEMANFAATAN dan tidak (pula) KEMUDHARATAN bagi diri mereka sendiri?”

Katakanlah:

“Adakah sama ORANG BUTA dan ORANG YANG DAPAT MELIHAT, atau samakah GELAP GULITA dan TERANG BENDERANG; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?”

Katakanlah:

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

(QS Ar Ra’d [13]: 16)

Subhanallah!